Rahasia Cantik Warisan Leluhur


Garam apung, salah satu produk to-ye

Para putri keraton digambarkan memiliki kecantikan alami; rambut yang legam dan mengilat, kulit halus mulus, serta tubuh yang segar. Konon rahasia mereka terletak pada perawatan kecantikan turun temurun yang menggunakan bahan-bahan alami. Mandi lulur, rempah, pijat dengan minyak esensial, jamu, dan meditasi, adalah bagian dari rahasia itu.

Sayang, saat ini produk-produk perawatan yang menggunakan sumber daya lokal ini kalah saing dengan produk asing dan berteknologi tinggi. Kalau mau jujur, berapa banyak wanita masa kini yang masih memakai minyak cemceman untuk merawat kesuburan rambutnya?

Padahal rempah-rempah dan bahan herbal yang tersebar di seluruh penjuru negeri ini memiliki manfaat besar untuk kecantikan dan obat-obatan alami. Salah satu dari sedikit produk
perawatan tubuh yang mengangkat budaya turun-temurun tersebut adalah to-ye.
To-ye dalam bahasa Bali, berarti air. Kemurnian dan kesederhanaan air menjadi prinsip to-ye dalam mengembangkan produknya. Hal tersebut diungkapkan oleh Veronica Aquinaldi, Sales Manager to-ye. "Kami hanya membuat produk yang benar-benar hasil dari kekayaan alam Indonesia," katanya.

Tak heran bila kita menemukan daun mangkokan (Nothopanax scutellarium) sebagai bahan utama produk perawatan rambut to-ye. Tanaman yang daunnya menyerupai mangkuk ini ternyata sangat berkhasiat menguatkan akar rambut sehingga tidak mudah rontok. Daun mangkokan tersebut diolah bersama dengan biji kemiri dan bunga melati menjadi produk cemceman.

Sedangkan kulit jeruk dan beras dimanfaatkan menjadi bahan lulur. Beras merupakan zat peluruh alami untuk mengangkat sel kulit mati, sedangkan jeruk dipakai untuk memberikan kesegaran alami. Selain itu tersedia juga lulur teh hijau, kopi jahe, lulur gel nilam dan gel pala yang memiliki bahan dasar lidah buaya. Zat yang terkandung dalam lidah buaya, antara lain vitamin A, asam folat, dan kolin, terbukti sangat bermanfaat untuk merawat kecantikan.

Bila dibandingkan dengan produk alami lainnya, Vero berani menjamin produknya alami. "Kami 100 persen natural," tegasnya. Sebagai ilustrasi, untuk membuat satu liter minyak esensial melati, menurut Vero dibutuhkan 100 kilogram bunga melati, sedangkan 10 kilogram jeruk purut hanya menjadi satu kilogram minyak jeruk purut. "Bisa dikatakan bahwa tumbuhan yang di destilasi hanya dapat menghasilkan 1 – 3% essential oil," jelasnya.

Menurut Vero, untuk menjaga kualitas produknya, pihaknya mencari bahan baku hingga ke pelosok daerah. "Kami mencari bahan-bahan unggulan dari berbagai daerah, misalnya saja dari Indonesia timur untuk memperoleh kayu putih dan cendana yang bagus," katanya. Selain itu, to-ye juga mengembangkan konsep komunitas lokal dengan para petani. Saat ini, jelas Vero, sudah banyak petani yang menjadi mitra to-ye dalam memasok bahan baku.

Selain perawatan tubuh, to-ye juga memiliki berbagai minyak esensial yang memakai rempah-rempah khas Indonesia. Misalnya adas, cendana, akar wangi, cengkeh, jahe, kayu gaharu, sereh, dan masih banyak lagi. Kelebihan yang dimiliki oleh rempah-rempah jenis ini, selain memberikan rasa tenang, mengusir masuk angin, juga dipercaya mampu meningkatkan semangat dan gairah.

Coba Sendiri

Berbeda dengan kosmetika modern yang mengklaim mampu memberi perubahan dengan cepat, tidak demikian dengan to-ye. "Kami tidak berjanji bisa memutihkan kulit, namun dengan pemakaian lulur yang teratur, kulit jadi lebih bersih," kata Vero.

Menurut Vero, produk-produk to-ye digali dari resep-resep tradisional kuno. "Sebelum dipasarkan kami melakukan uji coba hingga setahun," katanya. Selain uji laboratorium, setiap karyawan di perusahaan tersebut juga diminta melakukan uji coba. "Kami diwajibkan memakai produk ini jadi bisa memberi masukan dan mengetahui apakah menimbulkan alergi," ujarnya.

Kelebihan lain dari produk ini adalah menerapkan prinsip ramah lingkungan. Komitmen daur ulang, misalnya, antara lain diwujudkan lewat pemanfaatan kulit jeruk dari sebuah pabrik jus sebagai salah satu bahan dasar lulur. Selain itu, kemasan produk pun dibuat dengan sederhana.

Ternyata, untuk memasarkan produk yang sangat alami seperti to-ye tidaklah mudah. "Tidak semua orang suka aromanya, apalagi beberapa produk minyak esensial punya aroma yang kuat," ujar Vero. Karena itulah to-ye tidak membuka gerai, namun melakukan pemasaran produk lewat katalog dan pameran. "Kami masih perlu mengedukasi konsumen," katanya.

Selain itu, produk alamiah memiliki kekurangan dalam hal daya tahan karena tidak digunakannya bahan pengawet. Karena itu, produk lulur dibuat dalam kemasan sekali pakai. "Sekali dibuka, lulur ini harus habis digunakan, karena tidak bisa tahan lama," papar Vero. Sementara itu, produk minyak esensial dan garam mandi dikemas dalam botol kaca berwarna coklat gelap untuk menghindari oksidasi akibat sinar matahari langsung.

Karena tidak memiliki toko dan tidak beriklan, to-ye yang baru diluncurkan pada bulan Oktober 2008 pun bisa dijual dengan harga terjangkau, paling mahal adalah minyak aromaterapi seharga Rp 50 ribu. Konsumen yang berminat bisa melakukan pemesanan lewat telepon.
Jadi, tunggu apa lagi? Manjakan tubuh dan buatlah pikiran rileks dengan bahan-bahan yang telah akrab di telinga. Sensasi menjadi putri kraton yang merawat kecantikan dari bahan-bahan yang diambil dari kebun sendiri pun akan Anda rasakan.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Salam kenal,
Blog Anda menarik karena memberi informasi tentang
hal2 berkaitan dengan kebutuhan kita seperti Luluran, dll.
Room for improvement: lebih menarik lagi kalau pemirsa bisa tahu identitas Anda.
Tapi secara keseluruhan OK lah!

multibrand.blogspot.com

Posting Komentar